Tradisi Islam Lampung


Tradisi Islam Lampung

                Halo sobat, gue sekarang ingin ngeshare suatu kebudayaan kampung halamanku, ceilah. Ya, tetapi berbeda karena kebudayaan yang satu ini bernafaskan Islam. Cekidot!

1.      Kebiasaan Ngarak Maju Atau Budaya Ngarak

Dalam adat perkawinan pada Masyarakat Adat Lampung Pesisir dikenal istilah “Ngarak Maju”. Ngarak menurut istilah adalah Arak-arakan, sedangkan Maju adalah Pengantin. Maka “Ngarak Maju” adalah Adat arak-arakan pengantin Lampung yang dilakukan di tempat pihak pengantin pria, sebagai pertanda bahwa si pria telah resmi menikahi dengan si wanita (pengantin perempuan).

Dalam tradisi ngarak tersebut unsur yang terpengaruh Budaya Islam adalah penggunaan alat musik Rabana sebagai alat musik pengiring arak-arakan dan pelantunan Salawat dan Syair Arab yang dikenal dengan istilah Zikir Lama dan Zikir Baru. Demikian juga pada saat pengantin telah tiba di rumah pihak pengantin pria (setelah diarak), maka pihak keluarga si Pria menyambut rombongan Arakan tersebut dengan melantunkan Syair Arab “Lail” (ciptaan Imam Maliki).

 

2.      Adat Manjau Pedom

Adat Manjau Pedom adalah Adat bertamu untuk menginap di rumah pihak wanita oleh pihak keluarga pria yang dilakukan setelah prosesi ijab kabul. Hal yang ditekankan dalam Adat Manjau Pedom ini adalah menjalin hubungan silaturahmi antara keluarga pihak mempelai, sehingga terjalin hubungan saudara yang kuat dan saling tolong menolong antar kedua keluarga.

 


3.      Cempala Khua Belas

Dalam peraturan bujang gadis dikenal istilah “Cempala Khua Belas”, dimana hal ini mengatur tentang pergaulan bujang gadis dan barang siapa yang melanggar aturan Adat tersebut maka akan diberi sangsi. Dalam aturan tersebut tersurat akan adanya pengaruh hukum Islam yang mengatur hubungan pria dan wanita yang bukan muhrim, aturan pergaulan hidup bermasyarakat, serta aturan kesopanan dan kesusilaan.

 

4.      Alat Musik dan Kesenian

Pemakaian alat musik dan kesenian yang terpengaruh Budaya Islam adalah Alat musik Rabana, Gitar Tunggal, Gitar Gambus dan Piul (Biola). Alat tersebut digunakan pada saat prosesi adat atau pun pada saat pertunjukan kesenian pada pesta perkawinan. Sehingga kita kenal hingga saat ini kesenian Orkes Gambus Lampung yang telah muncul sejak tahun 1970-an.

 

5.      Acara Betamat

“Betamat” berasal dari kata tamat (selesai), tetapi menurut makna adalah membaca sebagian ayat-ayat Alquran (Juz Amma) pada malam hari yang biasanya dilakukan pada saat Khitanan dan Perkawinan. Dalam acara Betamat juga dilakukan pengarakan dari tempat guru ngaji anak-anak atau bujang gadis yang akan melakukan betamat.

 

6.       Acara Khatam Al-Quraan

Acara Khataman Al-Quraan biasanya dilakukan oleh beberapa orang (biasanya kaum bapak dan bujang) di rumah kerabat seseorang yang meninggal, yang biasnya dilakukan (dapat diselesaikan) selama 7 hari disamping acara Tahlilan. Pada zaman dulu, Acara Khataman Al-Quraan dilakukan juga pada saat Acara Sebambangan, yang dilakukan di rumah pihak laki-laki setelah wanita yang dibambangkan menginap 1 hari di rumah kepala adat. Acara ini dilakukan kira-kira sampai 3 – 7 hari oleh bujang-gadis, menungggu keluarga pihak wanita menyusul untuk memberi persetujuan kepada calon mempelai.

 

7.       Acara Marhabanan

Acara Marhabanan adalah acara syukuran dengan membaca Kitab Bersanzi yang dilakukan oleh kaum bapak atau bujang dalam memberi nama seorang bayi. Acara ini dilakukan biasanya pada malam hari di rumah keluarga atau kakek si bayi. Disamping memberi nama seorang bayi, dilakukan juga pemberian kenamongan bayi tersebut (Baca: Adat Namong dalam Masyarakat Adat Way Lima).

 

8.       Tradisi Masyarakat yang lain

Dalam masyarakat banyak tradisi yang masih bertahan dilakukan karena masih dianggap baik dan tidak bertentangan dengan agama, antara lain:

·         Rhuahan bersedekah dengan mengundang tetangga dekat guna memanjatkan do’a bagi para saudara mu’min dan muslim yang telah meninggal dunia serta untuk muslimi dan mukminin yang masih hidup, terutama mendoakan para arwah keluarga si pengundang, karena itu disebut “ruahan” (berasal dari kata (ruh). Biasanya dalam undangan tersebut dihidangkan sedikit makanan dan minuman.

·         Tabuh Beduk. Beduk sangat besar fungsinya bagi kehidupan masyarakat di kampung. Beduk tidak boleh dibunyikan sembarang waktu, karena akan menimbulkan kericuhan masyarakat bila dibunyikan tidak sesuai dengan kepentingannya.

 

Macam-macam tabuh beduk itu antara lain:

a)      Tabuh beduk untuk menunjukkan waktu shalat, di bunyikan pada tiap waktu shalat (5 waktu).

b)      Tabuh beduk pada waktu shalat Jum’at, di bunyikan 2 x, yaitu jam 11 untuk persiapan, dan 11.30 untuk segera berkumpul.

c)       Tabuh beduk untuk menunjukkan waktu shalat tarawih, khusus bulan Ramadhan, di bunyikan dengan nada khusus, sekitar jam 7 sampai jam 7.30 malam.

d)      Tabuh beduk bulangekh, di bunyikan sehari menjelang bulan Ramadhan.

e)      Tabuh beduk menjelang lebaran bulan Romadhon (I’dul Fitri).

“BudayaLampung merupakan perpaduan antara 3 Budaya Dunia yaitu Budaya Cina, Budaya India dan Budaya Arab” (Referensi Anjak Seandanan)

 

Sunan Gunung Jati vs Fatahillah


Sunan Gunung Jati

VS

 Fatahillah


Hai sobat, berjumpa lagi dengan mimin cantik yang baik hati *Eaakk. Mimin mau share lagi nih, seorang tokoh kontemporer yang acap kali menjadi kntroversi dan perdebatan. Siapa dia? Ya! Dia adalah Sunan Gunung Jati dan Fatahillah. Lah, apa bedanya min? Bukannya sama saja, Sunan Gunung Jati ya Fatahillah, Fatahillah ya Sunan Gunung Jati. Sebentar sebentar, jadi bingung, sebenarnya sama atau beda sih?
Mimin akui  memang banyak teks sejarah di sekolah-sekolah yang menyebutkan bahwa Fatahillah yang mempertahankan Pelabuhan Sunda Kelapa dari tangan Portugis itu adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Dengan kata lain teks pada buku-buku pelajaran itu ingin menyampaikan bahwa Fatahillah dan Sunan Gunung Jati merupakan sosok yang sama. (?) Lho? 
Tapi kenyataannya Fatahillah bukanlah Syarif Hidayatullah. Fatahillah atau juga disebut Faletehan dan Syarif Hidayatullah merupakan sosok yang berbeda.

 

Siapakah Dia?

 
Sunan Gunung Jati’s POV
Sebagaimana diketahui bahwa pernikahan Nyi Rara Santang atau Syarifah Muda’im, puteri Prabu Siliwangi yang menikah dengan Maulana Ishaq Syarif Abdillah, penguasa kota Isma’illiyah Saudi Arabia telah dikaruniai dua orang putera, yaitu Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Sejak kanak-kanak, keduanya telah diperintahkan ayahnya agar menimba ilmu sepenuh-penuhnya dari ulama-ulama yang terkenal di Timur Tengah. Dengan demikian kemungkinan terjadi antara keduanya berlainan memilih guru mereka masing-masing. Adapun ulama-ulama terkenal yang menjadi guru Syarif Hidayatullah diantaranya Syekh Tajmudin Al Kubro dan Syekh Ataillah Syadzali. Selain ilmu agama dan ilmu sosial, mereka berdua juga belajar ilmu Tasawuf dari ulama-ulama Baghdad.
Pada saat usia Syarif Hidayatullah berusia sekitar dua puluh tahunan, ayahnya Syarif Abdillah meninggal dunia, maka sebagai putera tertua Syarif Hidayatullah ditunjuk untuk menggantikan sebagai Amir (penguasa) Kota Isma’illiyah. Akan tetapi karena Syarif Hidayatullah sudah bertekad untuk melaksanakan harapan ibunya untuk menjadi ulama di daerah ibunya yaitu di Negeri Caruban (Cirebon sekarang), maka beliau melimpahkan jabatan amir tersebut kepada adiknya, Syarif Nurullah.
Beberapa bulan setelah pengangkatan Syarif Nurullah sebagai amir kota Isma’illiyah, ibunya Syarifah Muda’im dan dan Syrif Hidayatullah pergi meninggalkannya untuk pulang ke tanah Jawa. Di Jawa tepatnya di Negeri Caruban, yang jadi penguasa saat itu adalah kakaknya ibunya yaitu Raden Walangsungsang atau biasa disebut Mbah Kuwu Cirebon atau Pangeran Cakrabuana. Maka kedatangan mereka disambut dengan meriah dan mereka berdua dipekenankan tinggal di daerah pertamanan Gunung Sembung sambil mengajarkan ajaran Islam sebagai penerus Pangguron Islam Gunung Jati. Seperti yang telah direncanakan sebelumnya, Pangeran Cakrabuana menikahkan Syarif Hidayatullah dengan puterinya, Nyi Ratu Pakungwati. Selanjutnya, pada taun 1479, karena usianya yang sudah semakin uzur, Pangeran Cakrabuana menyerahkan kekuasaannya atas Negeri Caruban kepada menantunya, Syarif Hidayatullah. Sejak saat itulah tampuk kepemimpinan penyebaran ajaran Islam di Nagari Caruban berada di pundak Syarif Hidayatullah.
Mendengar bahwa di wilayah Pajajaran, agama Islam berkembang pesat setelah Nagari Caruban dipimpin oleh seorang mubaligh dari Kota Isma’illiya Arab Saudi, yaitu Syarif Hidayatullah, maka Raden Patah yang saat itu menjadi Sultan Demak pertama bersama para mubalig lainnya yang sudah bergelar Sunan menetapkan bahwa Syarif Hidayatullah sebagai penyebar ajaran Islam di tanah Pasundan dan bergelar Sayyidin Panatagama Islam atau Sunan. Karena daerah tempat Syarif Hidayatullah menyebarkan ajaran islam di Pangguron Gunung Jati maka dia diberi gelar sebagai Sunan Gunung Jati.
Ini dia mukanya
 

Fatahillah’s POV
Fatahillah atau Faletehan atau Kyai Fathullah atau yang biasa disebut sebagai Tubagus Pasai adalah seorang ulama dari Pasai, Aceh yang ikut mengungsi dari penjajahan Portugis di daerah Pasai tersebut. Fatahillah ini ikut dalam pasukan Dipati Unus yang pulang dari penyerangan ke Malaka melawan Portugis. Selain menyelamatkan diri dari penjajahan Portugis, kedatangannya ke Demak juga untuk ikut serta dalam membantu penyebaran agama Islam di tanah Jawa seperti yang diharapkan oleh ayahnya, Maulana Makhdar Ibrahim, ulama asal Gujarat.
Sebagai putera seorang ulama yang terbilang tinggi ilmu agama dan ilmu sosialnya, maka kehadiran Fatahillah di tengah-tengah Kesultanan Demak sebagai pusat pengembangan ajaran Islam merupakan harapan baik dalam mengemban tugas suci bersama para mubaligh lainnya yang masih ada.
Sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya bahwa Demak akan mengirim pasukannya ke Cirebon untuk bersama-sama mempertahankan Pelabuhan Sunda Kelapa dari tangan Portugis, maka oleh Raden Patah diangkatlah Fatahillah sebagai Panglima Pasukan Demak yang berangkat ke Cirebon. Dari Cirebon inilah, tentara Demak bersama-sama tentara dari Cirebon menuju Sunda Kelapa tetap dibawah pimpinan Fatahillah. Kenyataannya sampai disana pasukan Fatahillah tidak hanya berhadapan dengan Portugis, tapi juga berhadapan dengan pasukan Pajajaran. Namun demukian pada akhirnya pasukan Pajajaran dan Portugis dapat dipukul mundur dan Portugis pun terusir dari Sunda Kelapa pada tahun 1522. Oleh Fatahillah nama Sunda Kelapa diganti menjadi Jayakarta (sekarang Jakarta). Atas keberhasilannya tersebut, Fatahillah diberi amanah untuk memimpin Sunda Kelapa.
Akan tetapi karena keinginannya untuk menetap di Cirebon dan penggilan untuk memimpin pasukan dalam penyebaran agama Islam di beberapa daerah, maka sebagai pemimpin di Sunda Kelapa hanya beberapa bulan saja dan kepemimpinannya itu diserahkan kepada Ki Bagus Angke (Tubagus Angke) sebagai Bupati Jayakarta. Sejak saat itu Fatahillah bergelar Kyai Bagus Pasai. Sepulangnya dari penaklukan beberapa daerah ke Cirebon, oleh Sunan Gunung Jati, Fatahillah dinikahkan dengan puterinya Ratu Wulung Ayu. Fatahillah wafat dua tahun setelah wafatnya Sunan Gunung Jati yaitu pada tahun 1570 dan dimakamkan tepat disamping makam Sunan Gunung Jati.
Sayangnya, belum ada foto yang menunjukkan muka Fatahillah secara keseluruhan.
 
Perbedaan Sunan Gunung Jati dan Fatahillah :
·         Syarif Hidayatullah adalah putri Nyi Rara Santang atau Syarifah Muda'im, puteri Prabu Siliwangi yang menikah dengan Maulana Ishaq Syarif Abdillah, penguasa kota Isma'illiyah Saudi Arabia. Mereka mempunyai dua putera, Syarif Nurullah yang melanjutkan kedudukan ayahnya sebagai Amir (penguasa) dan Syarif Hidayatullah yang bersama ibunya kembali ke tanah Jawa sepeninggal Maulana Ishaq Syarif Abdillah. Oleh Pangeran Cakrabuana yang menjadi penguasa Caruban, Syarif Hidayatullah diperkenankan tinggal di daerah pertamanan Gunung Sembung sambil mengajarkan agama Islam. Hingga akhirnya Pangeran Cakrabuana menikahkan Syarif Hidayatullah dengan putrinya, Nyi Ratu Pakungwati. Karena usianya yang sudah lanjut, Pangeran Cakrabuana tahun 1479 menyerahkan kekuasaan kepada Syarif Hidayatullah. Sejak saat itulah Islam melalui Syarif Hidayatullah mulai berkembang pesat.
·         Sedangkan Fatahillah yang biasa disebut Faletehan atau Kyai Fathullah adalah seorang ulama dari Pasai Aceh yang hijrah ke Demak. Ia kemudian diangkat Raden Patah sebagai panglima pasukan Demak yang berangkat ke Sunda Kelapa bersama pasukan Cirebon menghadapi Portugis untuk mempertahankan pelabuhan Sunda Kelapa.
·         Dalam buku Jejak Para Wali dan Ziarah Spiritual terbitan Kompas, disebutkan juga bahwa setelah wafatnya Sultan Trenggana, Ratu Ayu yang merupakan putri Syarif Hidayatullah menikah dengan Fatahillah. Jadi bisa dikatakan Fatahillah merupakan menantu dari Syarif Hidayatullah.
·         Bukti lainnya adalah makam Fatahillah yang terletak di kompleks makam Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati wafat tahun 1568, sedangkan Fatahillah wafat 2 tahun setelahnya.
Satu hal yang sangat disayangkan adalah bahwa untuk dibuktikan kebenarannya kita bisa membuktikan bahwa Fatahillah adalah bukan Sunan Gunung Jati/Syarif Hidayatullah adalah dengan adanya makam Fatahillah/Tubagus Pasai disamping makam Syarif Hidayatullah/Sunan Gunung Jati. Pihak yang berwenang di komplek pemakaman itu tidak mengizinkan sembarang orang untuk memasukinya, melainkan harus ada izin tertulis yang menandakan bahwa seseorang itu mempunyai garis keturunan ke atasnya sampai kepada Sunan Gunung Jati/Syarif Hidayatullah.
Makam :
1. Sunan Gunung Jati (Syekh Syarif Hidayatullah)
2. Tubagus Pasai Fatahillah / Faletehan
3. Syarifah Muda’im (Nyi Rara Santang)
4. Nyi Gede Sembung ( Nyi Qurausyin)
5. Nyi Mas Tepasari
6. Pangeran Cakrabuana ( Mbah Kuwu Cerbon)
7. Nyi Ong Tien
8. Pangeran Dipati Cirebon I (Pangeran Swarga)
9. Pangeran Jakalelana
10. Pangeran Pasarean
11. Ratu Mas Nyawa
12. Pangeran Sedang Lemper
13. Pangeran Sultan Panembahan Ratu
14. Adipati Keling
15. Komplek Pangeran SIndang Garuda
16. Sultan Raja Syamsudin (Sultan Sepuh I)
17. Ki Gede Bungko
18. Komplek Adipati Anom Carbon (Pangeran Mas)
19. Komplek Sultan Mo. Badaridin
20. Komplek Sultan Jamaluddin
21. Komplek Nyi Mas Rarakerta
22. Komplek Sultan Moh. Badaridin
23. Komplek Panembahan Ratu Sasangkan
24. Adipati Awangga (Arya Kamuning)
25. Komplek Sultan Mandurareja
26. Komplek Sultan Moh. Tajul Arifin
27. Komplek Sultan Nurbuwat
28. Komplek Sultan Sena Moh. Jamiuddin
29. Komplek Sultan Saifuddin Matangaji
Menurut bukti dan perbedaan yang disertakan, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Fatahillah dan Syarif Hidayatullah bukanlah sosok yang sama. Meskipun belum dibuktikan dengan jelas bukti fisiknya, seperti makam Fatahillah yang belum jelas keberadaannya karena hanya golongan tertentu yang dapat masuk pemakaman.
 

Proses Masuk dan Berkembangnya Hindu-Buddha di Indonesia

Proses Masuk dan Berkembangnya Hindu-Buddha di Indonesia






            Hai sobat, berjumpa kembali dengan saya. Kali ini masih demgan topik sejarah, kita akan membahas tentang proses masuk dan berkembangnya Hindu-Buddha di Indonesia. Langsung aja yuk kita simak, cekidot.

Preface

            Sejak awal tahun Masehi telah berkembang hubungan perdagangan antara Asia Barat, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Asia Timur melalui jalur laut.
            Berkembangnya hubungan perdagangan melalui jalur laut tersebut, disebabkan terjadinya peperangan di jalur darat Asia Tengah. Peperangan itu menyebabkan jalur perdagangan darat (jalur sutra) menjadi tidak aman.
            Secara geografis, Indonesia terletak di kawasan Asia Tenggara dan berada pada jalur pelayaran laut antara Asia Selatan dan Asia Timur. Dengan demikian, Indonesia juga ikut terlibat dalam hubungan perdagangan antara Asia Selatan (India) dan Asia Timur (Cina). Indonesia berperan sebagai tempat transit atau singgah para pedagang dari kedua wilayah tersebut.
            Hubungan perdagangan antara Indonesia dan India telah terjadi lebih dahulu dibandingkan dengan Cina. Hal itu disebabkan system angin di Indonesia lebih memudahkan pelayaran ke India dan Persia daripada ke Cina. Pelayaran dari India ke Indonesia banyak dilakukan dengan menyusuri pantai sehingga tidak selalu menyeberangi Teluk Benggala.
            Orang India diperkirakan telah mengenal Indonesia sebelum tahun Masehi. Hal itu dapat dibuktikan dengan kitab Ramayana yang di dalamnya terdapat nama Jawadwipa (jawa berarti jewawut atau beras, dwipa berarti pulau). Di samping itu, ada lagi kata Suwarnadwipa (suwarna berarti emas, dwipa berarti pulau). Jawadwipa yang dimaksudkan adalah pulau Jawa (karena gudangnya beras), sedangkan Suwarnadwipa yang dimaksud adalah Sumatera (karena banyak menghasilkan emas). Hubungan dagang antara Indonesia dajn India berkembang makin intensif sejak abad ke-2 Masehi. Hubungan dagang antara Indonesia dan Cina baru berkembang pada abad ke-3 Masehi. Bukti tertulis tentang hubungan perdagangan dan pelayaran itu dapat ditelusuri dari laporan perjalanan Fa Hien (Fa Hsien). Ia adalah peziarah dari Cina yang dalam perjalanannya ke India singgah di Jawa (Tarumanegara) pada abad ke-5 Masehi. Bukti lain berasal dari Pendeta Gunawarman yang berlayar dari India ke Cina.
            Bersamaan dengan berkembangnya hubungan dagang antara India dan Indonesia, masuk pula agama dan kebudayaan Hindu-Buddha ke Indonesia. Agama Hindu masuk ke Indonesia sejak abad ke-2 Masehi. Bersamaan dengan masuknya agama Hindu di Indonesia, masuk pula agama dan kebudayaan Buddha. Berita masuknya agama Buddha ke Indonesia bersumber dari seorang pendeta Buddha dari Cina yang bernama Fa Hien. Dari India, Fa Hien berlayar pulang ke Cina. Pada saat berlayar, kapalnya mengalami kerusakan akibat angina topan. Fa Hien terpaksa singgah di Ye-Po-Ti (Jawadwipa). Fa Hien menyatakan bahwa di Ye-Po-Ti banyak dijumpai berhala dan kaum brahmana, sedangkan agama Buddha hampir tidak ada. Hal itu berarti abad ke-5 agama Buddha belum masuk ke Jawa.
Pada abad ke-7, di Indonesia ditemukan prasasti bersifat Buddha yang dibuat oleh raja-raja Sriwijaya. Hal itu menunjukkan bahwa pada abad ke-7 M agama Buddha telah masuk ke Indonesia. Mula-mula yang berkembang adalah aliran Buddha Hinayana. Kemudian pada tahap selanjutnya berkembang aliran Buddha Mahayana. Proses penyebaran agama dan kebudayaan Hindu-Buddha tidaklah instan, memerlukan waktu dan proses yang panjang. Peroses penyebaran ini belum memiliki satu teori yang pasti sehingga masih berupa hipotesis dari para ahli.
Secara umum, proses penyebaran agama Hindu-Buddha di Indonesia terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah yang menyebutkan bahwa agama Hindu-Buddha masuk melalui orang India yang masuk ke Indonesia. Kemudian mereka menyebarkan agama Hindu-Buddha. Bagian kedua adalah yang menyebutkan bahwa agama Hindu-Buddha menyebar di Indonesia oleh orang-orang Indonesia itu sendiri.

Teori Brahmana
By : JC Van Leur

Menurut JC Van Leur, kasta brahmana / orang orang Brahmana adalah yang paling mungkin untuk menyebarkan agama, karena mereka mengerti bahasa sansekerta dan huruf pallawa, sehingga dapat membaca kitab-kitab. Di dalam kitab yang mereka baca terdapat banyak ajaran ajaran tentng agama. Para brahmana datang ke Nusantara diundang oleh penguasa Nusantara untuk menobatkan menjadi raja dengan upacara Hindu (abhiseka = penobatan), selain itu kaum brahmana juga memimpin upacara-upacara keagamaan dan mengajarkan ilmu pengetahuan. Sebab lainnya adalah Para Brahmana diundang ke Nusantara oleh para kepala suku untuk menyebarkan ajarannya pada masyarakatnya yang masih memiliki kepercayaan animisme dan dinamisme.
Teori ini dilandaskan pada prasasti-prasasti peninggalan kerajaan Hindu Budha di Indonesia pada masa lampau yang hampir semuanya menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Saksekerta. Seperti yang sudah disebutkan diatas, di India, aksara dan bahasa ini hanya dikuasai oleh golongan Brahmana.
Selain itu, teori masuknya Hindu-Buddha ke Indonesia karena peran serta golongan Brahmana juga didukung oleh kebiasaan ajaran Hindu. Seperti diketahui bahwa ajaran Hindu yang utuh dan benar hanya boleh dipahami oleh para Brahmana. Pada masa itu, hanya orang-orang golongan Brahmana-lah yang dianggap berhak menyebarkan ajaran Hindu

Kelebihan   :
Di Indonesia, banyak prasasti Hindu-Budha yang menggunakan bahasa sansekerta dan huruf pallawa. Bahasa tersebut pada saat itu hanya dikuasi oleh kaum Brahmana

  1. Kaum Brahmana paling paham ajaran agama Hindu-Buddha, sehingga hanya merekalah yang berhak dan mampu menyebarkannya.
  2. Prasasti pertama di Indonesia menggunakan bahasa Sansekerta yang hanya dikuasai oleh kaum Brahmana.
  3. Kaum Brahmana yang datang untuk mengadakan upacara penobatan memberikan kitab Weda sebagai hadiah bagi sang raja.
  4. Para Brahmana sengaja didatangkan ke Indonesia untuk mengajar di lingkungan istana.
  5. Adanya bukti bahwa terdapat Kampung Keling yang memerlukan kaum Brahmana untuk upacara agama.

Kelemahan :
Dalam tradasi Hindu-Budha kaum Brahmana pantang menyebrang lautan
Brahmana menurut ajaran tidak diperbolehkan untuk berpergian, mereka bertugas untuk bertapa, mendekatkan diri kepada sang kuasa, di suatu tempat peribadatan.

  1. Mempelajari bahasa Sansekerta sangat sulit, sehingga tidak mungkin dilakukan raja-raja di Indonesia hanya dengan mempelajari kitab Weda.
  2. Brahmana dilarang menyeberangi lautan apalagi meninggalkan tanah air, sehingga mendatangkan Brahmana merupakan hal yang tidak mungkin.

Teori Ksatria
By : C.C. Berg, Mookerji, J.L. Moens

Teori ini menjelaskan bahwa agama dan kebudayaan hindu budha datang dibawa oleh golongan ksatria, Hal ini disebabkan kekacauan politik di india, sehingga para ksatria yang kalah melarikan diri ke indonesia. Mereka lalu mendirikan kerajaan-kerajaan serta menyebarkan agama hindu. Terdapat beberapa ahli yang mengumukakan pendapatnya unutk teori ini. Mereka percaya bahwa teori ini dibawa oleh para kstaria karna mereka memiliki jiwa mengembara yang kuat.
Berikut beberapa pendapat ahli :

1.         C. C BERG
Pada zaman dahulu ,saaat kstaria sampai di Indonesia, mereka diminta untuk membatu salah satu pihak / kelompok untuk menglahkan musuhnya. Dengan sebuah perjanjian yaitu, saat ksatria memenangkan pertarungan maka, ia dapat menekahi perempuan pribumi. Setelah kejadian tersebut dan ksatria dapat memengkan pertarungan tersbut. Ia dapat menikah dengan perempuan pribumi dan dapat dengan mudah menyebarkan ajaran agama Budha/Hindu

2.         Mookerji
Dalam pandangannya,ia menyatakan bahwa para ksatria lah yang memiliki peran dalam proses penyebaran agama Hindu-Budha di Indonesia yang di kemudiannya mereka membangun koloni-koloni yang akhirnya membentuk sebuah kerajaan.

3.         J. L Moens
Ia berpendapat bahwa proses terbentuknya kerajaan-kerajaan yang berada di Indonesia yang terbentuk pada sekitar awal abad ke-5, memiliki kaitan dengan situasi yang terdapat di India, yaitu hancurnya kerajaan yang berada di India yang menyebabkan parakeluarga kerajaannya melarikan diri ke Indonesia. Nantinya mereka akan berkembang di Indonesia dan kemudian mendirikan kerajaan sendiri.

Kelebihan :
Kaum Ksatria menunjukan rasa semangat dalam berpetualang ke seluruh dunia

  1. Para Ksatria memiliki semangat berpetualang dan menaklukkan daerah lain.
  2. Menurut C.C. Berg, para ksatria terlibat konflik dalam masalah perebutan kekuasaan di Indonesia. Apabila menang, mereka akan dinikahkan dengan putri dari kepala suku yang dibantunya. Maka, tradisi Hindu berkembang dengan mudah melalui perkawinan ini.
  3. Menurut Mookerji, para ksatria membangun koloni-koloni yang berkembang menjadi kerajaan dan menjalin hubungan dengan kerajaan India.
  4. Menurut J. L. Moens, para ksatria yang melarikan diri mendirikan kerajaan baru di Indonesia.

Kekurangan :
·   
  1. Tidak mungkin pelarian kstaria dari India bisa mendapat kedudukan yang tinggi di Indonesia, karena pada saat itu pemimpin di Indonesia adalah orang yang dirasa memiliki kelebihan dibanding yang lain.
  2. Tidak ada bukti yang kuat bahwa penyerangan yang dilakukan India terhadap Indonesia bertujuan untuk menyebarkan agama Hindu.
  3. Kehidupan masyarakat Indonesia tidak sama dengan masyarakat India. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi penguasaan secara mendasar pada aspek kehidupan masyarakat Indonesia.
  4. Para Ksatria tidak menguasai bahasa Sansekerta
  5. Tidak ditemukan prasasti/peninggalan yang menunjukkan adanya penaklukkan yang dilakukan India.

Teori Waisya
By : N.J. Krom

Menurut teori ini, orang-orang dari kasta waisya lah yang menyebarkan agama hindu dan buddha. Sebagaimana diketahui, bahwa kasta waisya adalah kasta yang terdiri dari para pedagang. Dan pada zaman dahulu (bahkan di beberapa tempat sampai sekarang) kasta ini adalah kasta dengan jumlah anggota terbesar. Para pedagang, mereka mengikuti angin musim (setengah tahun berganti arah) dan enam bulan menetap di Indonesia. Pedagang tersebut selain berdagang juga memperkenalkan agama Hindhu Budha di masyarakat nusantara. Saat ingin kembali ke India, mereka harus menunggu angin musim agar dapat kembali ke India akhirnya selama para pedagang tersebut tinggal menetap, memungkinkan terjadinya perkawinan dengan perempuan-perempuan pribumi.

Kelebihan :
Banyak Sumber Daya Alam (SDA) di Indonesia dan para pedagang yang berasal dari India dan menyebarkan agama Hindu-Buddha ketika berdagang

  1. Teori ini masuk akal, karena besar kemungkinan agama dan kebudayaan tersebut tersebar melalui interaksi perdagangan.
  2. Ditemukannya perkampungan pedagang India di beberapa daerah di Indonesia (Kampung Keling)

Kelemahan :
·         Jika para pedagang datang, mereka datang ke daerah pesisir pantai, sehingga terjadinya pengaruh agama hindu dan budha di dekat pesisir pantai. Kerajaan-kerajaan yang ditemukan berada di pedalaman yang cukup jauh (bahkan sangat jauh) dari pesisir pantai.
·         Para Pedagang tidak mengerti bahasa Sansekerta dan huruf pallawa. Padahal, semua yang menyangkut tentang keagamaan tertulis dalam kitab agama yang dituliskan dengan bahasa Sansekerta dan huruf pallawa.
  1. Motif bangsa India datang ke Indonesia adalah untuk berdagang, sehingga hubungan sosial yang terbentuk hanya berkisar seputar perdagangan, bukan penyebaran agama.
  2. Mereka lebih banyak menetap di daerah sekitar pantai untuk memudahkan perdagangan. Namun, kerajaan-kerajaan Hindu malah ditemukan di daerah pedalaman. Sehingga, agama ini tidak disebarkan oleh Waisya.
  3. Penghuni Kampung Keling memeiliki kedudukan yang sama dengan warga Indonesia di daerah itu, sehingga pengaruh agama yang mereka bawa tidaklah memberikan perubahan yang besar terhadap penduduk Indonesia.
  4. Kaum Waisya tidak bertugas menyebarkan agama. Mereka pun tidak memahami ajaran agama secara mendalam karena ketidak mampuannya dalam memahami bahasa Sansekerta layaknya kaum Brahmana.
  5. Tulisan dalam prasasti dan bangunan keagamaan Hindu ditemukan tertulis dalam bahasa Sansekerta yang hanya dipahami Kaum Brahmana.

Teori Arus Balik
By : G. Coedes

Teori ini mengatakan bahwa agama dan kebudayaan Hindu/Buddha pengaruh dari masyarakat Indonesia sendiri, yaitu karena peran aktif masyarakat Indonesia di masa silam. G. Coedes, pendekung teori ini menyatakan bahwa masyarakat di Indonesia lah yang berperan aktif dalam proses penyebaran agama Hindu-Budha. Orang India yang pertama kali masuk ke Indonesia adalah orang-orang yang memiiliki keinginan untuk menyebarkan agama Hindu-Budha. Kemudian setelah itu, muncul lah tokoh-tokoh masyarakat yang tertarik dengan ajaran Hindu-Budha dan kemudian pergi ke India untuk memperdalam ilmunya mengenai agama Hindu-Budha.
Terlepas dari teori tersebut , orang-orang Indonesia ikut memegang peranan penting dalam masuknya agama dan budaya India. Orang-orang Indonesia yang memiliki pengetahuan dari pada pendeta India kemudian pergi ke tempat asal guru mereka untuk melakukan ziarah dan menambah ilmu mereka. Sekembalinya dari India dengan bekal pengetahuan yang cukup, mereka ikut serta menyebarkan agama dan budaya dengan memakai bahasa mereka sendiri. Ajaran-ajaran yang mereka sebarkan dapat lebih cepat diterima oleh penduduk. Jadi, proses masuknya budaya India ke Indonesia menjadi lebih cepat dan mudah.
Hal lainnya yaitu ketika masyarakat pribumi pergi ke India, penduduk pribumi tertarik akan kesaaman budaya yang dimiliki India-indonesia . Misalnya saja; candi dengan punden berundak, kepercayaan, dan sebagainya.
Orang-orang pribumi pun akhirnya mendalami kebudayaan tersebut, mereka turut menumpang kapal pedagang untuk pergi ke India. Di sana ia pasti bertemu dengan para brahmana, dan akhirnya mendalami agama Hindu-Buddha. Setelah itu mereka pulang dan menyampaikan ilmu yang diperolehnya.

Kelebihan  :
  1. Adanya kemungkinan para bangsawan di Indonesia mengunjungi India untuk belajar agama dan budaya.
  2. Lebih menekankan keaktifan bangsa Indonesia berpartisipasi dalam proses masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan Hindu ke Indonesia.
Kelemahan :
Kemungkinaan orang Indonesia untuk belejar agama Hindu-Budha ke india sulit, karena pada masa itu orang indonesia masih bersifat pasif.

Peta jalur penyebaran agama Hindu-Budha di indonesia


Bukti-Bukti Peninggalan:
  1. Candi Borobudur
Candi Borobudur berbentuk punden berundak, yang terdiri dari enam tingkat berbentuk bujur sangkar, tiga tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua tingkat-tingkatannya beberapa stupa.
Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra.
candi borobudur
  1. Candi Mendut
Ciri-Ciri nya :
Hiasan yang terdapat pada candi Mendut berupa hiasan yang berselang-seling. Dihiasi dengan ukiran makhluk-makhluk kahyangan berupa bidadara dan bidadari, dua ekor kera dan seekor garuda.

Candi Mendut adalah sebuah candi berlatar belakang agama Buddha. Candi ini terletak di desa Mendut, kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, beberapa kilometer dari candi Borobudur.
Candi Mendut didirikan semasa pemerintahan Raja Indra dari dinasti Syailendra. Di dalam prasasti Karangtengah yang bertarikh 824 Masehi, disebutkan bahwa raja Indra telah membangun bangunan suci bernama veluvana yang artinya adalah hutan bambu. Oleh seorang ahli arkeologi Belanda bernama J.G. de Casparis, kata ini dihubungkan dengan Candi Mendut.

Candi Mendut
  1. Kitab Cilpa Sastra, merupakan peninggalan Kerajaan Syailendra yang berisi dasar-dasar pokok membuat candi.
  2. Prasasti Muara Kaman, di tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Prasasti ini ditulis sekitar tahun 400 Masehi, berisi tentang sejarah Kerajaan Kutai.Prasasti muara kaman
  3. Prasasti Canggal tahun 732 M, di dekat Magelang. Berisi tentang Kerajaan Mataram Hindu dengan Raja Sanjaya.
  4. Yupaprasasti canggal
Yupa adalah prasasti yang dituliskan pada tiang batu. Awalnya, yupa digunakan untuk mengikat kurban, baik hewan maupun manusia yang akan dipersembahkan kepada dewa.
Yupa ditemukan di Kalimantan Timur, pada abad ke-5 yang berisi tentang kisah seorang raja bernama Mulawarman yang baik budiman dan mempunyai kakek bernama Kudungga. Saat pemerintahan Mulawarman, rakyat hidup makmur dan sejahtera. Mulawarman juga memiliki hubungan yang baik dengan kaum Brahmana.
Yupa-di-Kutai
  1. Patung Gajah Mada
Patung ini dibuat untuk mengenang jasa-jasa Patih Gajahmada dalam mempersatukan Nusantara di bawah Majapahit. Pada saat diangkat menjadi Mangkubumi atau Perdana Menteri Majapahit, Gajah Mada mengucapkan sumpah yang bernama “Sumpah Palapa”.
Gajah-Mada_Madakaripura1
  1. Patung Buddha
Ditemukan di Bukit Siguntang, Palembang pada abad ke-2. Patung Buddha merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya sebagai bukti bahwa agama Buddha berkembang dengan baik. Selain itu terdapat juga patung Buddha di Candi Mendut.

budha1